Selayaknya panorama hijaunya pedesaan,
Kemarau datang maka yang terpandang hanyalah kelayuan,
Kemarau datang maka yang terpandang hanyalah kelayuan,
Meretak kering, kaku penuh amarah kedahagaan
Menuntun mata menatap desa lain
Akan tetapi mata tetap terpaku beku dengan panorama desa kering keronta yang terbiasa ditatapnya,
Ketika penghujan tiba mata tak henti memuji
Wajah si desa yang berseri-seri, penuh gelak tawa,
Dan sesekali menyapa mata dengan meniupkan angin lembutnya
Menyentuh kelopak mata dan membuat mata terbelai perlahan-lahan
Hingga ketagihan ingin merasakan kembali.. merasakan tak ada henti..
Ketika si desa sedang merasakan penghujan tiba-tiba api merambat dengan cepat merajalela ditubuhnya karena ulah yang disengaja..
Jeritan, tangisan yang meronta-ronta tak bisa tertahan membuat air mata berlarian keluar tak kembali untuk menyaksikannya tanpa pamit kepada mata,
Mata berusaha untuk menutup diri agar tak melihat panorama desa
Tetapi panorama itu tetap terlihat dan membayangi
Itulah alasan mata tak dapat perpaling memandang si desa.
Yang paling menakutkan adalah ketika sang kemarau tiba dan tubuh desa terbakar oleh ulah yang disengaja pula,
Apa daya mata yang hanya bisa terdiam menanti nerakanya dan mengharap keajaiban surga menghampirinya terlebih dahulu.
Yang paling menakutkan adalah ketika sang kemarau tiba dan tubuh desa terbakar oleh ulah yang disengaja pula,
Apa daya mata yang hanya bisa terdiam menanti nerakanya dan mengharap keajaiban surga menghampirinya terlebih dahulu.
Segores tinta tak tertata rapi yang mengukir tentang mata dan desa
Mendorongku mengingat sosok orang terkadang tergesa-gesa mengikuti langkahku, terkadang menyeretku cepat dengan amarahnya,
Menutupi suatu hal yang meyakitkan jika aku tau,
Menjauhiku karna kesalahan fatalku
Tapi dengan tulus tak tulus dia tetap memperlihatkan dirinya dihadapanku
Memberikan senyuman entah pahit atau manis entah kecut atau gurih,
Membebaskan mulutnya melontarkan ucaan kepada
Tentang sedih dan bahagia
Teruntuk orang payahku
Hidupku hidupmu tunduk dengan kisah kita
Pahitmu kau lemparkan keras kemukaku
Kau payah.. kau benar-benar payah
Kau mngusikku menggangguku
Dengan cerita basimu, cerita tololmu
Cerita licikmu cerita pamermu
Hei orang payahku
Tabung saja payahmu sampai mati
Maunya kau kuajak payah
Menampung sedihku menampung bahagiaku
Tak usahlah kau pamer peran kepadaku
kiramu bisa orang payah pamer peran
pura-puramu bisa kutebak
ya.. meski hanya terkadang saja
orang payahku sahabatku
orang toloku sahabatku
orang licikku sahabatku
orang pamerku sahabatku
sahabat..
jangan buat mataku juling hanya karna kau tak tampak
aku gak mau galau aku gak mau resah
aku gak mau jombloku rasa pacar kalau kamu marah
tak anggap sajalah gayamu..seperti video diatas
jangan baper karna aku tak inginkan itu
karna aku menyadari bapermu hanya untuk pacarmu
sahabatku..
kelak ketika kita sudah menua
kulit kita keriput bersama tak semulus sekarang
kuharap kita masih saling memandang
saling menjadi saksi perubahan dunia yang begitu cepat
mengadu bersama kepada Tuhan tentang kemaksiatan kita
mengadu tentang ketidak adilan