Langit yang masih berselimut kabut, membuat matahari malas memunculkan sosoknya. Ku tapakkan kakiku diatas tanah basah yang diguyur air hujan tadi malam, perlahan aku melangkah memasuki jalan yang begitu sempit, yang di apit oleh sawah-sawah, sesekali aku akan terjatuh ke dalam sawah dan kubenahi dengan menyeimbangkan kaki dan tubuh.
Tak terasa aku sampai di sebuah rumah yang kucari, ku ketok pintu rumah itu, namun tak ada jawaban, aku menunggu begitu lama, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi berjalan-jalan melihat desa yang sudah lama ku tinggalkan ini.
Aku pergi menuju sebuah tempat .tempat ini merupakan tempat bermainku dengan sahabatku dulu. Kusibak-sibak rumput di bawah pohon. Aku duduk, menatap langit, melihat suasana desa. Meski kabut tak juga pergi, mengahalangi sinar matahari, panorama desa ini tetap indah..
Dari jauh, ku lihat petani yang begitu tertatih-tatih membawa sekarung padi hasil panennya. Hatiku terperanjat ingin menolong petani yang tak salah lagi dia tetap membutuhkan bantuan. Dengan tergesa-gesa aku menghampiri petani itu, rasanya tangan ini menyeretku ingin membantu. Langkahku semakin dekat, dan sepertinya petani itu menyadari ada yang menyusulnya dari belakang, namun reaksinya sepertinya tenang-tenang saja.. “mbaak…mbaak… ayo tak bantu” ku sentuh bahu dengan sedikit daging itu dari belakang. Petani itu membalikkan tubuhnya dengan hati-hati, takut padi yang dia bawa terjatuh. “aku masih bisa sendiri” dia membuka benda yang dia pakai diatas kepala yang tak lain adalah caping dan menatapku. Aku sangat terkejut, ternyuata orang dihadapanku adalah orang yang kucari dirumahnya tidak ada. “ mbak fa??” aku memanggilnya pelan. “ lia..” dia menyapaku dengan wajah yang memerah, mata yang berkaca-kaca, seakan dia ingin mengatakan sesuatu.
Dia membalikkan tubuhnya lagi dan berjalan dengan cepat, menahan beban yang dia bawa membuat di terdesak berjalan cepat agar sampai rumahnya. Di perjalanan pikiran di benakku mulai tak karuan menahan seribu pertanyaan. Apa yang terjadi? Mengapa mbak fa seperti ini? Menggendong padi? Sendiri? Mana embahnya? Diman bapak ibunya? Aku mencoba menahan pertanyaanku semua. Aku tak sanggup mengatakan di jalan dan seperrtinya akan menambah beban mbka fa semakin berat jika aku bertanya-tanya dijaln seperti ini.
Sampai dirumahnya, aku ikut masuk mnak fad an membantu padinya massuk ke dalam gudang. Rasanya tak mampu aku melihat isi rumah itu. Begitu selesai aku langsung keluar, duduk di bangku depan rumah, begitu menyakitkan, rumah yang dulu begiyu indah. Rumah yang dulu begiru ramai, ada tangisan adik mbak fa.. ada teguran nenek. Ada suara ibu mbak fa yang begitu keras. Dimana mereka semua? Mengapa rumah ini sekarang beggitu sepi. Tembok yang sudah runtuh sedikit demi sedikit, keamik yang sudah tak menyatu lagi. Atap yang sudah tak rapat lagi, dapat di masuki oleh air hujan.
Mbak fah menyusulku dengan membawakan minuman hangat untukku.
Mbak fah:" ini tehnya..Kenapa datang tak memberi kabar?"
aku :"bagaimana bisa kasih kabar? nomermu saja tidak aktif".
mbak fah:"tentu saja tidak aktif, handphoneku sudah ku jual."
aku :" mengapa di jual? menyusahkan saja!"
mbak fah tidak menjawab,tiba-tiba dia menangis melihatkan kesedihan yang dia rasakan selama ini.
mbak fah:" untuk biaya hidup."
aku :" biaya hidup? hidup siapa?" (aku memaksanya untuk
bercerita apa yang sebenarnya di jalani sekarang ini)
mbak fah:" hidupku. tanpa seorang ibu.. ayah.." ( tangisannya semakin
keras)
aku :" apa yang terjadi mbak? aku sama sekali tak mengerti."
mbak fah:" aku di sini sendiri, hidup sendiri, nenek sudah meninggal
tujuh bulan yang lalu."
aku :" ibu dan ayahmu kemana mbak?"
mbak fah:" mereka masih seperti dulu.."
aku :"lalu sekolahmu bagaimana?"
mbak fah:" aku tetap sekolah, hasil dari kerjaku sendiri.'
aku :" kerja apa?"
mbak fah:" ya.. seperti yang kamu lihat tadi.. setiap sore aku bekerja
sepulang sekolah."
dari kecil mbak fah memang tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya, dia tidak pernah sedikit pun di beri uang untuk sekolah, dia bisa sekolah hasil dari embahnya.. Ayahnya, sering mabuk-mabukan, tanpa ada kesalahan mbak fah selalu menjadi bahan untuk di hantam, di maki-maki, bahkan dulu pernah di usir dari rumah, ibunya tak pernah sedikit pun membantu dan membela mbak fah. " kalau aku membelamu, lalu? mau makan apa aku dan adikmu kalau bukan dari ayahmu? lebih baik mendiamkan mu daripada mengurusmu!" kata ibu mbak fah dulu.
Waktuku dan mbak fah berbicara cukup lama, hingga tak sadar hari sudah petang aku harus kembali kerumahnya embah.. aku berpamitan, bersalaman dengan mbak fah. Dengan berat hati aku melangkahkan kakiku meninggalkan mbak fah." Mbak fah yang malang.. aku berjanji jika suatu saat aku menjadi orang yang lebiha baik dari sekarang, sudah bekerja,menjadi orang yang sukses aku akan mengajakmu menikmati indahnya dunia bersama..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar